Indra Gunawan > Introspeksi Diri

Awas Jebakan Pemikiran

“Pilih mana santun tapi korup atau kasar tapi tidak korup ?”
"Pilih mana berjilbab tapi berakhlak buruk atau tidak berjilbab tapi berakhlak baik ?”

Dua pertanyaan yang sempat ramai di media sosial dan “seolah-olah” memaksa kita memilih pilihan kedua karena diakhiri dengan sesuatu yang baik karena kita menyukai sesuatu yang berakhir baik (happy ending). Tapi tunggu dulu, jangan dulu terjebak menjawab karena sebetulnya ini pertanyaan jebakan…

Ada 3 solusi yang bisa menjawab jebakan ini :

1. Dari Peribahasa

“Nila setitik rusak susu sebelanga.”
Maukah Anda meminum susu (analogi kebaikan) yang ditambahkan kotoran cicak (analogi keburukan) di dalamnya ? Padahal kotoran cicak ini hanya sebesar upil tapi susunya 1 gelas besar.


2. Dari Matematika

Semua tau angka 1 itu positif, tapi jika ditambah angka negatif misal -1 hasilnya tidak akan bertambah nilainya jadi 2, tapi malah berkurang jadi 0. Apalagi jika dikalikan, hasilnya -1 alias yang 1 positif terbawa jadi negatif.

3. Dari Firman Tuhan dalam Al-Quran

Jujur menurut saya ini solusi yang paling menjawab jebakan pertanyaaan di atas.

Allah SWT berfirman:

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَـقَّ بِا لْبَا طِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَـقَّ وَاَ نْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
wa laa talbisul-haqqo bil-baathili wa taktumul-haqqo wa antum ta'lamuun

"Dan janganlah kamu campur adukkan kebenaran dengan kebatilan

dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 42)

Tuhan memerintahkan kita untuk tidak mencampurkan kejahatan ke dalam kebaikan sehingga syetan berhasil membuat kita berfikir seolah-olah kejahatan itu menjadi baik,menjadi sebuah pembenaran bahwa kasar itu gak apa-apa loh.

Kedua pilihan di atas semuanya menjadi buruk karena mencampur adukkan dengan sesuatu yang buruk.

Korupsi itu jahat

Kasar pun jahat

Berakhlak buruk pun jahat

Tidak berjilbab juga tidak lebih baik dari berjilbab

Kesimpulan

Ketika ada orang mencoba menjebak kita dengan pilihan yang menggabungkan sesuatu yang buruk dengan yang baik, sebaiknya langsung ditolak saja karena sesuatu yang baik ditambah sesuatu yang buruk bisa menjadi buruk, tidak akan pernah lebih baik dari yang baik saja.

Pilihan di atas adalah jebakan “pembenaran” agar keburukan yang kedua seolah-olah menjadi sebuah “kebaikan” atau dianggap gak apa-apa dan yang bahayanya diikuti, misal akhirnya orang menganggap kasar itu tidak apa-apa, Naudzubillah.

Daripada mencari pembenaran dari sebuah kesalahan, lebih baik kita fokus memperbaiki diri sambil terus menambah kebaikan dengan kebaikan baru yang lainnya.

Wallahualam bis showab

Semoga bermanfaat 🙏


Baca Inspirasi Introspeksi Diri Lainnya dari Indra Gunawan

Baca Inspirasi Lainnya dari Indra Gunawan